jump to navigation

KATA PENGANTAR 22 Agustus 2009

Posted by @siandi in KATA PENGANTAR.
4 comments

Oleh : Radian Kanugroho

Dari kecil saya selalu bermimpi untuk menjadi seorang pembuat film. Dari rekaman-rekaman yang ada, sejak saya berumur 3 tahun ayah saya (yang memang juga tertarik di bidang videografi) sudah mengenalkan kamera video berformat Video8 yang ia beli tahun 1986 kepada saya. Sisa perekaman yang ada adalah ketika saya selesai kelas 2 SD. Pada saat itulah mulainya ketertarikan saya terhadap dunia videografi. Setelah mulai remaja, saya berusaha mempelajari seluk beluk dunia film. Dari rekaman-rekaman yang ada, teknologi editing non-linear atau digital mulai saya terjuni saat tahun 1996 (menggunakan Pinnacle Miro DC30+ yang saya gunakan hingga pertengahan 2004 sebelum saya beralih ke sistem editing digital murni).

Sayang, dunia film yang sangat mahal akhirnya malah membawa saya terjun ke dunia video. Sampai sekarang, saya masih belum bisa meraih impian saya untuk membuat Movie menggunakan film seluloid. Tapi, saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya yakin, walau hanya dengan menggunakan teknologi video, suatu saat saya akan membuktikan bahwa saya bisa membuat yang lebih baik! Haha… Seperti novel “5cm”, jangan taruh impian di dalam kepala, tetapi taruhlah 5 senti di depan matamu! Hehe…

Produksi video saat ini sudah bukan lagi hal yang unik di mata masyarakat Indonesia. (lebih…)

Iklan

Bab II : Kamera Video (Camcorder/Camera Video Recorder) 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab II : Kamera Video (Camcorder/Camera Video Recorder).
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Kamera Video adalah kamera elektronik yang digunakan untuk menangkap gambar dan merubahnya ke dalam format gelombang video. Berbeda dengan format film, kamera video ditujukan untuk dunia penyiaran televisi karena prosesnya yang lebih cepat ketimbang film yang harus melalui banyak proses dahulu sebelum dapat dilihat hasilnya.

Menurut Wikipedia.org, kamera video pertama ditemukan oleh John Logie Baird dalam perusahaan Nipkow Disk dan digunakan untuk proyek pengembangan dan percobaan pada BBC Corporation. Konsep kerjanya merupakan kebalikan dari proses kerja televisi CRT, dimana sinyal video diproyeksikan ke kaca yang kemudian dengan kecepatan tinggi menjadi sebuah gambar. Kamera video pada awalnya juga memiliki cara kerja yang sama. Dengan sebuah tabung cahaya, gambar ditangkap dan diterjemahkan menjadi gelombang video yang prinsip kerjanya sama dengan televisi. Prinsip kerja tabung ini didasarkan kepada Vladimir Zworykin‘s Iconoscope dan Philo T. Farnsworth‘s Images Dissector (1931) yang juga menjadi prinsip kerja televisi.[1] (lebih…)

E. Media Penyimpanan Digital (Digital Storage) 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Perkembangan penyimpanan Video secara digital ke dalam pita analog membuat para produsen media penyimpanan digital berfikir “Kenapa koq data digital disimpannya di dalam pita? Kenapa gak ke dalam produk kita aja dimana data disimpan dalam sebuah chip? Kan ringkas juga, tuh!”.

Akhirnya dengan kompresi MPEG-2 dan MPEG-4 (tergantung produsennya) terciptalah format penyimpanan digital yang disimpan dalam media MMC (Multimedia Card), CF Card (Compact Flash Card), Sony Memory Stick Pro, P2 Card, bahkan Hard-Disc. Kamera yang menggunakan media penyimpanan digital ini menjadikan video yang kita rekam sebuah file video yang kemudian akan kita buka menggunakan komputer. Layaknya file video yang kita simpan di USB flashdisc, file-file video akan tersimpan di dalam media penyimpanan digital. (lebih…)

D. Media Penyimpanan Optikal Digital 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , , , , , ,
1 comment so far

Setelah format penyimpanan analog yang berupa cakram terkenal cukup lama, pada tahun 1993, Microsoft mengeluarkan format baru dalam bentuk digital, yaitu VCD (Video Compact Disc). Cara kerja VCD tidak mengerok gelombang video diatas kepingan CD, tetapi VCD mengerok (menggoreskan) gelombang data digital yang jika dibaca dan diproses oleh alat bernama processor, file tersebut akan terbaca sebagai file video. File video tersebut lalu dibaca oleh prosesor sebagai simbol biner ‘0’ dan ‘1’.

Seperti halnya memutar video di komputer, player VCD bukan menterjemahkan goresan-goresan pada kepingan menjadi sinyal video melainkan menjadi sebuah file yang kemudian file tersebut dibaca oleh software milik player tersebut. (lebih…)

C. Media Penyimpanan Optikal Analog 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , , ,
add a comment

Ketika teknologi Audio CD dikembangkan di tahun 1972, pada tahun 1976 dengan menggunakan teknologi audio CD dikembangkan juga sistim pemutar video lewat kepingan cakram yang akhirnya menggunakan sistim Laser Disc.

Audio CD tidak menyimpan data pada kepingan CD, melainkan sinar laser akan ‘mengerok’ lapisan permukaan CD sehingga menghasilkan gerigi-gerigi kecil yang menghasilkan getaran suara. Konsep Audio CD persis seperti konsep piringan hitam. Ketika CD yang sudah terkerok tersebut diputar di player, maka sinar laser akan membaca permukaan CD, dan sinyal suara akan dihasilkan sesuai dengan getaran yang terjadi karena gesekan sinar laser dengan goresan di permukaan CD. (lebih…)

B.7. HDV (High-Definition Video) (2003) 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , ,
add a comment

HDV adalah teknologi yang ditujukan untuk mengganti teknologi DV serta berniat mengalahkan format DVCPRO HD & HDCam yang muncul terlebih dahulu. Dasar pemikirannya adalah “Jika HD sudah menjadi standar, kenapa format HD tidak dibuat dengan harga murah yang mampu dikonsumsi semua kalangan?” Jika kita telaah, seperti DV, HDV merupakan format dan pendatang baru yang mampu menggebrak dunia penyiaran maupun perfileman.

 Gambar 1.11. Logo HDV – Format baru dalam video yang dapat memasukkan gambar ukuran besar (HD) ke dalam pita DV (DVCam Tape/miniDV). (lebih…)

B.6. Panasonic DVCPRO●HD (2000) 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , ,
2 comments

Adalah pesaing besar dari HDCam. Dengan kemampuan menghasilkan warna 4:2:2 (HDCam hanya 3:1:1) DCVPRO HD mampu mengalahkan kualitas dari HDCam. Sayangnya, karena berusaha menampilkan warna 4:2:2, DVCPRO HD mengurangi resolusi gambar menjadi 960 x 720 px (720i/p) (untuk kemudian diperbesar menjadi 1280 x 720 px) dan 1440 x 1080 (1080i/p) untuk memuatkan besar data maksimum 100mb/detik agar pita video DVCPRO mampu menampung kebutuhan datanya[1].

Walaupun memiliki resolusi lebih rendah ketimbang HDCam, Panasonic DVCPRO HD tetap memiliki kualitas di atas HDCam dalam hal reproduksi warnanya. Dalam dunia penyiaran, kelas HDCam dan DVCPRO merupakan format HD yang biasa digunakan dalam studio karena besar peralatan dan perlengkapannya yang berat dan repot.

TAPI saya bantah pernyataan saya mengenai kerepotan produksi. (lebih…)

B.5. Panasonic DVCPRO●50 (1998) 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , ,
add a comment

Adalah saingan besar dari Digital Betacam karena banyak digunakan juga dalam industri penyiaran televisi. Harga kaset dan teknologi pendukung lainnya (Player, recorder, dsb) yang sangat murah (dibandingkan DIGITAL BETACAM) dan bentuknya yang relatif ‘ringkas’ (secara fisik sama dengan/menggunakan kaset DVCPRO25) membuat penggunaannya lebih mobile. (lebih…)

B.4. SONY HDCAM (1997) 12 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , ,
add a comment

Catatan : Ketika kita membahas tentang DV, bukan berarti kita hanya membahas format DV, tetapi HD atau HDV bahkan Digital Cinema juga termasuk dalam ‘DV’. DV disini berarti “Digital Video”, dimana video direproduksi ke dalam bentuk biner 0 dan 1 (digital) dan data digitalnya disimpan dalam tempat penyimpanan (storage) digital.

Format HDCAM ini kurang begitu populer setelah keluarnya format HDV di tahun 2003. Teknologi HDCAM sangatlah mahal. HDCAM dapat merekam gambar dengan kompresi Uncompressed, dan beresolusi gambar 1920 x 1080. Ini adalah awal munculnya format HD. (lebih…)

B.3. DV25 Format (DV, miniDV, DVCPRO & DVCam) (1995 – 1996) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Perang format video kembali terjadi setelah video analog Betamax dan VHS dulu. Kali ini dalam format DV. Sebelumnya perlu dijelaskan terdahulu, format DV adalah format standar dunia, yang digunakan oleh berbagai kalangan baik kalangan rumahan (konsumer), semi-profesional (prosumer), profesional, hingga sineas.

DV, adalah format perekaman standar digital video. Mampu memproduksi gambar berukuran 720 x 576 (PAL), dan 720 x 480 (NTSC) dengan kemampuan penangkapan garis horizontal maksimal 576 line. Kompresor DV sangat banyak yang antara lain : Sony DV Codec, Panasonic DV Codec, Microsoft DV Codec, QuickTime DV Codec, (lebih…)

B.2. Digital Betacam (1993) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , ,
add a comment

Tak banyak berbeda dengan format D1, Digital Betacam (atau kadang disebut dengan Digibeta, d-beta, dbc, atau singkatnya Digi) mampu memproduksi 520 line gambar dengan ukuran 768 x 576 (PAL, Square Pixel, 50i), atau 720 x 576 dan 720 x 486 (NTSC, 60i). Pada saat itu, teknologi kompresi video untuk menciptakan bitrate kecil perdetiknya masih sangat minim yang alhasil Digital Betacam menghabiskan 90Mb/detik dengan sistim kompresi “DCT-Compressed Component Video Signal”. Padahal menurut SONY sendiri di tahun 1996, kompresi yang lebih kecil dengan kualitas yang sama dapat diciptakan. Maka dari itu, pertengahan tahun 1996, Sony mengeluarkan DVCam.[1] (lebih…)

B.1. Sony BTS/D1 (1986) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , ,
add a comment

Video jenis D1 adalah jenis video digital pertama. Walaupun dengan koneksi komponen (Y’CbCr 4:2:2) yang belum digital, dia berhasil melampaui batas video yang (saat itu) menjadi standar penyiaran, yaitu Betacam SP. Betacam SP yang hanya mampu memproduksi 340 line gambar dengan ukuran 440 x 384 (PAL), berhasil dilewati oleh D1 mampu memproduksi 520 line gambar dengan ukuran 768 x 576 (PAL, Square Pixel, 50i), atau 720 x 576.

D1 adalah cikal bakal sistem Video Digital. Dengan sistim perekamannya yang Uncompressed, D1 menghasilkan gambar dengan bitrate 165Mb/detik. Dengan lebar pita 19mm (3/4”), D1 mampu merekam gambar dengan durasi maksimal 94 menit. (lebih…)

B. Pita Kaset Video Digital 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Pada pertengahan 1996, ayah saya pulang ke rumah dengan membawa sebuah kamera recorder (camcorder) dari kantornya. “Kamera apa lagi itu pa?” kata saya. “Huahahaha! Ini kamera format baru, Ndi! Ini format DV! Digital Video. Kasetnya seperti ini, nih!” (sambil menunjukkan kaset DV-L size) kata bapak saya. Disitu saya mulai ternganga melihat format baru tersebut.

Format Video Digital adalah sebuah format yang menjadikan pita magnetik kaset sebagai media penyimpanan data (secara digital), bukan media penyimpanan gelombang transfersal video (seperti pada analog). Alhasil, pada kaset video digital, kualitas bukan ditentukan oleh kaset, karena kaset hanya digunakan sebagai media penyimpanan data, seperti halnya disket, harddisk, dan lain-lain[1]. Kaset DV yang ada pada umumnya pada saat itu (miniDV, SONY DVCam Tape & Panasonic DVCPRO Tape) memiliki kemampuan menyimpan data hingga sebesar 25Mb/detik dan kemampuan mereproduksi garis-garis horizontal sebanyak 520 lines. (lebih…)

A.8. Sony Hi-8 (1989) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , ,
add a comment

Video jenis ini merupakan perkembangan dan versi tinggi dari video portabel Video8. Kaset Hi8 mampu menciptakan resolusi 560 x 480 (PAL) dengan jumlah garis horizontal 420 lines, setingkat dengan S-VHS.

Sampai dengan lengsernya masa jaya Betacam (di tahun 1996 di Amerika & Eropa, 1999 di Indonesia), CNN, Reuters dan BBC London menggunakan format Hi-8 ini sebagai format standar peliputan berita di lapangan. (lebih…)

A.7. Super VHS (S-VHS) (1987) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in KATA PENGANTAR.
Tags: , , ,
add a comment

Saya sempat kaget ketika menyusun tulisan saya ini, dan melihat format Super VHS berada di peringkat lebih atas dari Betacam SP. S-VHS, sistem yang biasa saya lihat dan saya gunakan antara tahun 1994 hingga 2000 untuk meliput video pernikahan ternyata memiliki resolusi 560 x 480 (PAL) dengan jumlah garis horizontal 420 lines. Jumlah garis horizontal yang dia ciptakan berhasil melebihi standart televisi NTSC yang (pada saat itu) hanya membutuhkan 400 lines. (lebih…)

A. 6. SONY Video 8 (1985) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , ,
add a comment

SONY kembali mengelurakan format video untuk mendukung produk barunya : Handycam. Handycam adalah sebuah istilah yang diciptakan kamera kecil/portabel untuk merk SONY. Untuk mendukung penggunaan kamera kecil home-using tersebut, dibuatlah format baru, yaitu Video 8. Video 8 memiliki besar penampang pita video selebar 8mm dan bentuk fisik kaset relatif kecil dan tipis. Kualitas video 8 menyamai kualitas Betamax dan VHS.

Memang pada dasarnya, penggunaan Video 8 dan Handycam ditujukan untuk konsumen kelas rumahan dan bukan untuk pengguna profesional. Dengan harga yang sangat murah serta kamera yang sangat kecil dan ringkas, pemasaran produk ini meledak di tahun 1987. Penggunaan kamera dan kaset video8 ini berlangsung hingga tahun 1996. Sayapun sempat sangat familiar menggunakan format ini dulu.

A.5. Betacam/Betacam SP (1982) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , ,
add a comment

Sony Betacam adalah format analog pengganti U-Matic dalam penggunaan video untuk penyiaran (broadcasting). Pada saat itu, Betacam tampak seperti ‘dewa’ video. Semua stasiun TV diwajibkan menggunakan format Betacam dan siapapun yang ingin memutar videonya di televisi, wajib menyerahkan dalam format Betacam. Rumah-rumah produksi yang memposisikan diri di kelas atas (High-End) biasanya ditandai dengan mampunya melakukan editing dengan sistem Betacam. Hal semacam ini sempat saya (penulis) alami. Setelah mendominasi sistem video dunia penyiaran televisi, peralatan penyiaranpun didominasi dengan label “BETACAM Support/Compatible” mulai dari Kamera Video, Video Switcher, bahkan hingga Sistem penyiaran RF (Radio Frekuensi). (lebih…)

A.4. VHS (Video Home System, 1976) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , ,
2 comments

Video Home System (VHS), itulah format video dengan lebar penampang pita 16mm penantang Betamax yang dikeluarkan oleh pendatang video baru dari Jepang, Japan Victor Company (JVC) di tahun 1976. Sebelumnya, JVC lebih intensif dalam produksi proyektor film 16mm. Dengan harganya yang murah dan kualitas yang sedikit lebih baik, bahkan lebih praktis dan stabil dari Betamax (dimana Betamax kecepatannya tidak standar. Jadi, antar kaset video memiliki kecepatan putar yang sedikit berbeda, sehingga setiap kali mengganti kaset video harus di-set kembali kecepatannya, jika tidak di ganti, akan tampak garis-garis semut pada gambar). (lebih…)

A3. Betamax (1975) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , , , ,
add a comment

Sony Betamax merupakan konsep pengembangan dari sistem sebelumnya, Philips VCR yang digunakan untuk penggunaan konsumen (Home-Use Video). Sejak diluncurkan pada bulan Maret 1975, Betamax mulai mencuat namanya dengan turut sertanya Walt Disney (melalui distributor Buena Vista) dan Universal City Studio yang memasarkan film-filmnya kepada konsumen rumahan melalui media kaset Betamax dan menamai sistem Home Video. (lebih…)

A.2. SONY U-Matic (1969) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , ,
add a comment

Sony U-Matic merupakan konsep pengembangan yang kemudian menjadi standar industri penyiaran di dunia selama hampir 15 tahun. Dengan resolusi yang dibawah standar (hanya 250 line), sejak tahun 1971 dia menguasai seluruh sistem penyiaran dunia. Akhirnya di tahun 1985, dengan subsidi dari Jepang, Televisi Republik Indonesia (TVRI) akhirnya merubah secara total sistim penyiarannya dari sistim U-Matic (yang masih bersolusi gambar rendah 350 x 300 pixel) menjadi sistem Sony Betacam.

Dengan berkembangnya teknologi, sistem perekaman dengan menggunakan sistem U-Matic dihentikan dan teknologinya tidak diteruskan. Kualitas rekam yang sama dengan Betamax dan VHS membuat dia kalah saing dengan penerusnya, Betacam. U-Matic yang hanya sekualitas VHS dianggap tidak memenuhi syarat Broadcast. (lebih…)

A.1. QUADRUPLEX (1956) 9 Oktober 2009

Posted by @siandi in Bab I-B : Media Penyimpanan Video.
Tags: , , ,
add a comment

QUADRUPLEX merupakan konsep sempurna pertama dari video yang digunakan secara umum dan menghasilkan gambar berwarna. Sistem ini merupakan perkembangan dari VERA (Vision Electronic Recording Apparatus) kembangan BBC pada tahun 1952 yang per detiknya menghabiskan 5,08 meter atau 18,3km/jam dan menghasilkan gambar hitam-putih yang sangat buruk. QUADRUPLEX , dengan gulungan pita selebar 2 inchi dan menghabiskan pita sebanyak 38cm/detik dapat merekam video dan audio secara bersamaan. (lebih…)